Thursday, November 6, 2014

Geometri Sakral (Sacred Geometry)

Salah satu sebab mengapa pelajaran geometri (sebagai bagian dari matematika) di sekolah kurang menarik ialah karena tidak didekatkan dengan alam dan lingkungan tempat kita hidup. Hal yang sama berlaku pada banyak pelajaran lain, seperti fisika dan matematika umumnya, sehingga seakan-akan apa yang kita pelajari di kelas terpisah dari kehidupan nyata.

Padahal, jika kita mau mengajak siswa menghubungkan geometri dengan sekeliling kita, pelajaran ini bisa jauh lebih menarik. Geometri diperlukan dalam banyak bidang, ketika orang merancang bangunan, membuka wilayah dan kota baru, membikin meja, menata ruang tamu—begitu banyak, tetapi pelajaran di kelas begitu steril dari semua itu. Jadinya, membosankan.

Di masa teknologi GPS yang begitu modern seperti sekarang—untuk menentukan koordinat di permukaan bumi, hingga di zaman kuno, geometri menjadi bagian hidup sehari-hari manusia. Bahkan, orang-orang di masa lampau, seperti Mesir kuno, memanfaatkan geometri untuk mendirikan piramida, nenek moyang kita membangun Borobudur juga memperhitungkan betul aspek geometri, bangsa Maya pun begitu.

Bagi peradaban lampau (dan untuk sebagian masih bertahan hingga kini), geometri bahkan begitu ‘sakral’ dalam pengertian diperhitungkan karena keyakinan tertentu. Pemahaman mengenai geometri sakral, begitu istilah yang kerap dipakai, menjadi dasar untuk menghitung struktur-struktur relijius, seperti kuil, masjid, gereja, altar, candi. Dan juga penempatan bangunan penting di area tertentu—dalam novel The Lost Symbol, Dan Brown mengeksplorasi tentang hal ini.

Geometri sakral dapat dipahami sebagai pandangan-dunia bahwa segala sesuatu memiliki pola-pola tertentu yang melibatkan ruang, waktu, maupun bentuk. Ada aroma spiritualitas dan filosofis di dalamnya. Pola-pola serupa dapat dijumpai di alam: pada daun, tepi laut, tata surya, begitu banyak. Mari kita lihat rumah lebah madu. Bangunan rumah lebah jenis ini berbentuk segi enam, heksagonal. Di dalam kimia, struktur heksgonal ini ternyata paling kokoh. Lebah madu merupakan makhluk yang lemah tetapi menghasilkan madu perlu diberi perlindungan yang lebih kuat strukturnya. 

"Sacred geometry" atau geometri sakral merupakan geometri yang ada pada bangunan-bangunan suci atau juga karya seni yang bersifat suci atau keramat. Dipercaya bahwa bangun-bangun geometri (dan hubungan matematis tertentu) juga ditemukan dalam dunia seni, budaya serta kepercayaan. Sistem nilai semacam ini telah ada sejak jaman pra-sejarah. Sebagian orang berpendapat bahwa geometri sakral ini bersifat universal sehingga dapat lintas batas baik secara geografis maupun secara demografis.

Geometri sakral merupakan cara pandang sekelompok orang tentang pola atau system symbol yang rumit dan berlaku dalam bidang keagamaan / kepercayaan. Pada umum tinjauannya mencakup: ruang, waktu dan tentu saja juga bangun. Dalam pandangan ini bangun-bangun geometri utama dari benda-benda yang bersifat keagamaan atau kepercayaan bersifat sakral. Dengan begitu, mereka menghubungkannya dengan Sang Misteri, Sang Maha Desain. Dengan mempelajari, sifat, struktur serta hubungannya dengan yang "gaib" kita dapat berkesempatan untuk "masuk" ke relung yang paling dalam dari Rahasia Alam Semesta itu sendiri.

Kelompok yang mengembangkan geometri sacral percaya bahwa alam semesta ini dipenuhi oleh bangun-bangun geometri yang keberadaannya tidak secara kebetulan tetapi mengikuti Sang Parancang. Di balik itu semua ada Sang Arsitek. Di belakang itu semua ada Sang Pemikir.

Dalam bidang keagamaan / kepercayaan banyak ditemukan bangun-bangun geometri yang juga mangandung makna tertentu. Misalnya, bangun lingkaran, dimaknai sebagai lambang keabadian, keutuhan oleh sebagian besar orang dimanapun mereka berada. Bangun segi empat dimaknai sebagai lambang kesatuan, ketegaran. Ornamen yang ada pada hiasan alat-alat ibadah Islami, selalu "dibiarkan" tanpa akhir (masih ada kelanjutannya tetapi sudah di luar bingkai). Hal itu dimaknai sebagai tanda "tiada akhir", "tiada yang sempurna" kecuali Yang Sempurna (lihat gambar di bawah).



Belakangan, geometri sakral ini dipadu dengan geometri fraktal sehingga menghasilkan bangun-bangun geometri yang "modern". Sejumlah ahli juga menggunakan teori-teori geometri fraktal untul menguraikan bangun-bangun geometri yang telah dibuat orang di
masa lalu.

0 komentar:

Post a Comment

Leledd....
Mbukak!
Tunggu ya, lagi leled halaman.... Sabarrr .....
link